Investasi Bodong Arisan Berantai

Dalam beberapa hari ini ada kabar tentang korban arisan online di daerah Blora. Mirisnya kebanyakan yang menjadi korban adalah mereka yang berpenghasilan rendah. Yang sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja harus berjuang habis-habisan. Dengan tabungan yang dihasilkan dari hasil kerja bertahun-tahun ikut masuk perangkap arisan online tersebut. Bahkan ada yang sampai menggadaikan atau menjual rumah dan sawahnya. Mengapa hal seperti ini masih terus terjadi?

investasi bodong arisan berantai

Investasi bodong arisan berantai yang terus memakan korban.

Akar masalah terus langgengnya masalah ini menurut saya adalah karena minimnya literasi tentang keuangan. Dan juga sifat “serakah” yang memang ada di masing-masing orang. Walaupun sudah pernah tahu tentang bahayanya ikut arisan berantai Apalagi secara online. Namun keinginan memperoleh pendapatan yang besar dalam waktu singkat dengan cara mudah, lebih kuat dari akal sehatnya. Dan kedua hal ini diketahui dengan pasti oleh para penipu yang berkedok investasi. Mereka masuk melalui orang-orang yang dianggap punya pengaruh kuat di masyarakat. Yang mendapat predikat “terpercaya”. Padahal mereka semua adalah korban dari investasi bodong arisan berantai ini.

Peringatan yang diabaikan karena matinya akal sehat

Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia secara berkala terus menginformasikan tentang bahayanya investasi bodong. Tapi tetap saja terus muncul produk abal-abal investasi ini. Sepertinya hal seperti ini akan terus bermunculan di kemudian hari. Tapi dengan cara kerja lebih rapi dan senyap. Sehingga tidak cepat terdeteksi saat awal beroperasi. Apalagi sifat masyarakat kita yang mudah melupakan. Padahal kejadian yang mirip pernah terjadi. Dengan korban yang sangat banyak. Atau mungkin ini salah ciri masyarakat yang tidak mudah stress? Jadi gampang move on. Dan siap jadi korban lagi. He he he.

Skema Ponzi sebagai acuan investasi bodong

Charles Ponzi, imigran keturunan Italia di Amerika Serikat sangat terkenal dengan skema penipuannya. Sehingga skema yang dibuatnya dinamakan Skema Ponzi. Pada tahun 1920-an dia menawarkan investasi yang sangat menggiurkan. Dengan imbal balik antara 50 sampai 100 persen dalam waktu 45 hari dan 100 hari. Meskipun terdengar mustahil dan “tercium” bau penipuannya, tapi ternyata banyak yang ikut serta dalam skema yang ditawarkannya. Iming-iming “jaminan 100 %” sungguh mematikan akal sehat.

Prinsip dasarnya adalah dengan “merampok investor baru untuk disetorkan ke investor lama”. Jadi uang setoran dari investor baru, kemudian dibagi-bagikan secara bertahap ke atas. Prosentase perolehan investor lama tergantung posisinya. Semakin keatas semakin kecil prosentasenya. Tapi karena mendapat bagian dari banyak investor baru, maka jumlahnya menjadi besar. Bisa sangat besar malahan. Dan siapa yang memperoleh paling besar? Tentu saja pemilik ide investasi bodong ini. Dia yang berada di puncaknya. Bahkan sering kali menaruh nama-nama keluarganya di deretan paling atas.

Contoh perhitungannya seperti ini. Misalnya Anda sebagai investor baru menyetor dana sebesar satu juta rupiah. Kemudian uang Anda oleh prusahaan investasi bodong ini dibagikan ke investor diatas Anda langsung 30%, diatasnya lagi 20% demikian seterusnya. Sebagian dananya tentu saja diambil perusahaan. Dengan berbagai alasan yang diabuat agar masuk akal. Pada bulan berikutnya kalau ada investor baru langsung dibawah Anda, maka Anda akan menerima pembagian 30 %. Sehingga secara perhitungan, modal awal Anda akan kembali dalam waktu sekitar 100 hari. Dan itu hanya keuntungannya yang diperoleh. Modal awal Anda masih ada di perusahaan itu. Sehingga Anda akan terus menerima setoran rutin. Selama ada investor baru yang masuk.

Dengan skema seperti ini tentu saja orang akan makin bersemangat berinvestasi lagi. Sehingga uang imbal balik yang diperolehnya kemudian diinvestasikan lagi. Bahkan banyak juga yang menambahnya dengan investasi baru. Misalnya dengan menjual mobil atau rumah. Juga mengajak saudara dan teman-temannya untuk ikut berinvestasi. Makin banyak investor baru akan makin banyak memberinya imbal balik. Menggiurkan memang bagi yang belum paham resikonya.

Tumbangnya investasi bodong arisan berantai.

Saat membuat investasi abal-abal ini pasti sang investor utama sudah tahu. Bahwa dalam hitungan bulan akan tumbang. Karena jumlah investor baru yang masuk sudah tentu akan makin sedikit. Dan ini sudah hukum alam. Pertumbuhan orang tidak secepat berjalannya waktu. Dengan demikian uang yang diterima perusahaan juga makin sedikit. Dan uang yang akan dibagikan ke para investor lama juga tidak akan mencukupi lagi. Akibatnya pembagian keuntungan makin sulit. Dan akhirnya bubar dengan sendirinya. Dengan korban paling parah adalah para investor baru. Yang belum menikmati hasil sama sekali. Sedangkan Investor Utama sudah kabur entah kemana. Meninggalkan karyawan-karyawannya yang didemo para investor yang marah.

Kejadian seperti akan terus terjadi dengan kemasan lain. Misalnya dengan membentuk koperasi, seperti kejadian yang sempat viral di daerah Tangerang. Namanya Koperasi Langit Biru. Entah punya surat legalitas resmi atau tidak sebagai koperasi. Produk yang ditawarkan adalah investasi daging sapi. Dan yang dipasang sebagai “pimpinan” adalah seorang guru ngaji yang selama ini dikenal jujur. Padahal bisa jadi dia adalah korban juga. Karena saat ditangkap dia sama sekali tidak punya uang. Besar kemungkinan uangnya diambil “Bos” nya. Dan dia dikorbankan saat koperasinya tumbang. Dan hebatnya koperasi abal-abal ini bisa beroperasi hingga 2 tahun. Dengan pesertanya dari berbagai kota diluar Tangerang. Iming-iming uang gampang ini memang sangat menggiurkan. Bagi yang tidak berakal sehat.

Baca juga : Ide bisnis sederhana bernilai milyaran

Leave a Reply

Your email address will not be published.