Mengapa Saya Sering Gagal ?

Selama saya hidup belum pernah menemui seseorang yang selalu berhasil dalam segala hal. Pasti pernah mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan atau maksud tertentu. Memang ada beberapa orang entah bagaimana caranya sering kali dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti memiliki jimat keberuntungan ada di sakunya. Namun itu bukan berarti tidakpernah gagal. Sebaliknya ada orang-orang tertentu yang seperti kutukan. Karena sering mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan. Bahkan saat semuanya dilakukan sesuai petunjuk dan dengan kehati-hatian yang tinggi. Ada saja yang membuat segala sesuatunya tidak berjalan lancar. Sampai timbul pertanyaan, “Mengapa saya sering gagal, sedangkan si dia lebih sering berhasil ?”.Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah ada pola-pola tertentu yang melatar belakanginya ?.

mengapa saya sering gagal

Mengapa saya sering gagal menggapai impian?

Menurut beberapa ahli ternyata terdapat pola-pola yang tercetak pada tiap orang. Orang sukses punya pola. Orang gagal juga punya pola. Seorang bayi yang baru lahir sudah punya pola yang terekam di bawah sadarnya. Hal ini diketahui dari pengalaman beberapa terapis yang dengan metode tertentu berhasil mengajak pasien melihat masa lalunya. Bahkan sampai ke masa dalam kandungan. Ternyata otak bayi sudah merekam kejadian-kejadian yang akan mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari. Meskipun pola-pola yang sudah terekam itu bisa berubah, namun ada yang demikian kuatnya sampai mampu mempengaruhi “nasib” seseorang.

Dalam perkembangan dari masa dalam kandungan, kemudian lahir dan sampai besar, banyak masukan yang diserap otak dan terekam di pikiran bawah sadar. Jika masukan yang terekam itu baik, maka akan membentuk pola sukses. Namun jika masukan yang terekam itu tidak baik, maka akan terbentuk pola tidak sukses atau sering gagal.

Terbentuknya pola ini karena masukan yang berulang-ulang masuk ke pikiran. Atau bisa juga dari orang lain yang mempunyai otoritas atau status lebih tinggi. Sehingga membentuk keyakinan bahwa dia memang seperti itu adanya. Keyakinan ini yang nampak dari hasil yang diperoleh masing-masing orang. Misalnya si Bunga (bukan nama sebenarnya) yang bersekolah di Sekolah Menengah yakin bahwa nanti dia akan kesulitan menjawab soal-soal ujian. Walaupun dia sudah belajar dengan keras semalaman. Dan ajaibnya dari mulai berangkat sekolah, sampai di sekolah sampai saat mengerjakan ujian banyak sekali masalahnya. Dari mulai angkot yang telat, kemudian angkotnya ditilang polisi karena melanggar rambu lalu lintas. Sampai di sekolah sudah terlambat. Kemudian masuk kelas harus terburu-buru karena ujian sudah dimulai. Dan karena sudah tidak nyaman selama perjalanan, ujiannya jadi terasa sulit sekali. Padahal kalau melihat soal-soalnya dia sudah mempelajarinya dengan baik semalam.

Lain ceritanya dengan Doski (bukan nama sebenarnya). Pembawaannya selalu ceria. Menghadapi ujian seperti akan main adu kelereng. Menyenangkan dan menggairahkan. Dan dia mempelajari bahan ujian seperti kalau mau bermain. Tidak harus berusaha keras. Poin-poin pentingnya yang dicatat dan dipahami. Sehingga diperoleh pemahaman yang menyeluruh. Dan ini bagian yang asyiknya. Saat berangkat sekolah, eeh ada yang memberinya tumpangan. Jadi tidak perlu kelamaan naik angkutan umum. Pas saat ujian juga soalnya persis seperti yang dipelajarinya. Jadi terasa mudah dan menyenangkan.

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal seperti itu. Saat pikiran kusut, semuanya jadi menyusahkan dan menjengkelkan. Tapi saat pikiran sedang ceria, maka semuanya jadi nampak mudah dan menyenangkan. Jadi intinya apakah pola ceria atau kusut yang terpola di pikiran Anda lah yang membentuk nasib Anda saat ini.

Apakah pola yang tidak baik bisa diubah?

Menurut salah seorang terapis yang saya temui, pola yang terinstal di pikiran bawah sadar bisa diubah dengan persetujuan yang bersangkutan. Pikiran yang lama dinetralkan dan dimasukkan program baru yang lebih baik. Sekali lagi semuanya atas persetujuan yang bersangkutan. Jadi kalau seseorang tidak bisa merubah nasibnya dengan cara mengubah polanya, maka ada kemungkinan dia tidak tahu caranya atau dia memang tidak mau berubah. Karena ada yang memang “menikmati” ketidak beruntungannya sebagai alasan mendapatkan hal-hal tertentu. Misalnya agar terus dibantu. Atau punya alasan bila gagal menjalankan tugas. Lalu menyalahkan orang lain atau keadaan yang tidak mendukung.

Yuk berubah !

Baca juga : Belajar Berkata TIDAK.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.